
KONAWE KEPULAUAN KontaraNews — Angin pesisir menyapu lembut Desa Bobolio, menyapa deretan wajah-wajah bersahaja yang hadir menyimpan asa. Di tanah Wawonii Selatan, denyut kehidupan warga tak pernah lepas dari impian sederhana: jalan yang tak lagi berlumpur, benteng pantai yang kokoh menahan gelombang, serta uluran tangan medis yang datang tepat waktu saat napas darurat berembus.(Rabu, 04/11/2026).
Menuntaskan Reses Ketiga Masa Sidang III di Daerah Pemilihan (Dapil) 3, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe Kepulauan, Ishak, S.E., hadir di tengah-tengah warga. Selama tiga hari penuh terhitung sejak 2 hingga 4 November 2026 politisi Partai Demokrat ini menyusuri tiga titik lokus utama: Desa Bobolio, Desa Baku-Baku, dan Desa Wawouso.
Didampingi para staf pendamping dari Sekretariat DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan, kehadiran Ishak bukan sekadar memenuhi rutinitas kelembagaan, melainkan sebuah ikhtiar mendengarkan detak jantung rakyat di perbatasan Wawonii Selatan dan Wawonii Tenggara.

Suara Akar Rumput dan Harapan Kepala Desa Bobolio.
Dari tempat duduk bersahaja di sudut desa, riak-riak kerinduan akan pembangunan disuarakan oleh warga Bobolio Raya, Baku-Baku, Wawouso, hingga Lawei. Sebagai pimpinan wilayah yang paling dekat dengan denyut nadi masyarakatnya, Kepala Desa Bobolio, Muh. Musa A. Susanto, menyambut hangat kehadiran Ketua DPRD dan menyampaikan langsung betapa krusialnya perhatian pemerintah daerah terhadap kebutuhan warga setempat.
”Kehadiran Bapak Ketua DPRD di tengah-tengah kami adalah wujud nyata kepedulian seorang pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyatnya. Kami di Desa Bobolio dan sekitarnya sangat berharap, melalui reses ini, suara-suara kecil dari pesisir Wawonii Selatan benar-benar didengar dan diwujudkan terutama akses jalan yang layak, perlindungan abrasi, serta mobil ambulans yang sangat kami dambakan untuk keselamatan warga,” ungkap Muh. Musa A. Susanto.
Setiap usulan yang meluncur mulai dari titik Bobolio hingga Baku-Baku dan Wawouso kemudian dipahat sebagai bentuk kerinduan akan pemerataan:
Jalur Pengikat Kehidupan: Warga merindukan mulusnya pengaspalan jalan penghubung dari jalur lingkar menuju pemukiman, khususnya konektivitas vital antara Baku-Baku dan Wawouso yang saban hari dilintasi warga.
Benteng dan Rumah Harapan: Kerinduan akan hadirnya talud pantai penahan abrasi laut serta asa keluarga bersahaja untuk mendapatkan program bantuan bedah rumah.

Penyambung Nyawa di Perbatasan:
Kebutuhan mendesak akan satu unit ambulans untuk Puskesmas Bobolio sebuah sarana yang tak sekadar roda berputar, melainkan jembatan penyambung asa bagi warga yang membutuhkan pertolongan medis cepat.
Mendengar bait-bait aspirasi tersebut, Ishak menegaskan bahwa aksesibilitas dan fasilitas dasar adalah hak mendasar yang harus diperjuangkan tanpa menunda.
Membawa Bisik Rakyat ke Singgasana APBD
Bagi Ishak, reses adalah ritual kebudayaan politik paling suci, tempat di mana ruang sekat antara pejabat dan masyarakat melebur menjadi satu tekad bersama. Seluruh catatan penjaringan dari Bobolio, Baku-Baku, hingga Wawouso ini dipastikan tak akan berdebu di lemari meja kerja.
Rangkaian aspirasi tersebut akan ditenun menjadi bahan rujukan prioritas dalam meja pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Konawe Kepulauan untuk tahun anggaran mendatang.
”Reses adalah ruang di mana nurani dewan bertemu langsung dengan napas kehidupan rakyat. Di sinilah usulan lahir dari kebutuhan riil yang paling mendasar, bukan sekadar kehendak di atas kertas,” tutur Ishak .
Janji yang Tertanam di Tanah Wawonii
Menutup perjalanan tiga hari di Wawonii Selatan pada penghujung 4 November 2026, Ishak memberikan keteguhan janji politik dan tanggung jawab moralnya sebagai wakil rakyat.
”Sebagai Ketua DPRD, janji dan komitmen saya kepada seluruh saudaraku di Wawonii Selatan adalah mengawal setiap doa dan aspirasi yang telah dititipkan ini. Kami akan memperjuangkannya di gedung dewan hingga kelak menjelma menjadi wujud pembangunan yang benar-benar memerdekakan warga,” tegas Ishak.
Kini, saat matahari senja menyusut di ufuk Wawonii Selatan, terbit harapan baru dari warga: bahwa jalan-jalan penghubung itu kelak akan mengantar kesejahteraan, dan sirene ambulans Bobolio akan selalu siap menjaga kehidupan.(Tim Redaksi).






