Paripurna di Usia ke-13 Konkep Merawat Asa Menyulam Wawonii Emas

Daerah73 Dilihat


Konawe Kepulauan kontara News- Pagi yang tenang di Aula DPRD Konawe Kepulauan itu terasa berbeda Bukan sekadar agenda tahunan, Rapat Paripurna Istimewa yang digelar Sabtu, 11 April 2026, menjelma menjadi ruang perenungan tentang jejak yang telah dilalui, dan arah yang hendak ditujuh.

Di ruangan itu, Bupati Rifqi Saifullah Razak dan Wakil Bupati Muhamad Farid, SE, hadir bersama jajaran Forkopimda, kepala OPD, hingga tokoh masyarakat. Mereka duduk dalam satu suasana: merayakan usia ke-13 Konkep, sekaligus meneguhkan kembali harapan yang belum selesai.

Ketua DPRD Konkep, Ishak, SE, memimpin jalannya rapat dengan nada yang tidak hanya formal, tetapi juga penuh makna. Baginya, angka 13 bukan sekadar hitungan waktu, melainkan cermin perjalanan tentang bagaimana daerah ini tumbuh, jatuh, lalu kembali bangkit.

“Ini adalah saat untuk menguatkan kembali komitmen kita membangun daerah yang adil, berkelanjutan, dan bermartabat,” ujarnya,
tenang namun tegas.
Ia pun mengingat para pendiri daerah, mereka yang pernah menanam harapan di tanah Wawonii hingga akhirnya Konkep berdiri sebagai daerah otonomi.

Dari tangan merekalah, fondasi itu diletakkan dan kini, generasi hari ini melanjutkannya.
Bupati Rifqi Saifullah Razak dalam sambutannya mengajak hadirin menoleh sejenak ke belakang.

Ia mengingatkan, lahirnya Konawe Kepulauan bukanlah cerita singkat, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang penuh pengorbanan.

Pada 12 April 2026, usia itu genap 13 tahun sejak ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013. Namun, bagi Rifqi, usia itu lebih dari sekadar angka.

“Ini adalah tanda bahwa Wawonii sedang menumbuhkan peradabannya sendiri,” tuturnya.

Di bawah kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Muhamad Farid, visi Wawonii Emas 2030 terus digaungkan sebuah harapan tentang masa depan yang lebih sejahtera, adil, dan berkelanjutan.

Tema peringatan tahun ini, “Kolaborasi Kerja Nyata dalam Gerbang Wawonii Emas,” menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kebersamaan, ketekunan, dan keberanian mengambil langkah yang tepat.

Di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah daerah memilih jalan yang lebih terarah,menguatkan program produktif, menekan kegiatan seremonial, serta memastikan setiap anggaran benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Setiap rupiah harus kembali sebagai manfaat,” kata Rifqi.

Paripurna itu pun berakhir, namun pesannya tinggal. Di usia yang ke-13, Konawe Kepulauan tidak hanya merayakan waktu, tetapi juga merawat asa tentang Wawonii yang terus tumbuh, pelan namun pasti, menuju masa depan yang lebih terang. (GZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *