Humulu dan Meoti-Oti Kembali Menggema, Perayaan Budaya di HUT ke-13 Konawe Kepulauan

Daerah246 Dilihat


KONAWE KEPULAUAN KontaraNews – Tradisi lama kembali menemukan panggungnya. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-13 Konawe Kepulauan, Festival Humulu dan Meoti-oti digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal masyarakat Wawonii yang telah diwariskan lintas generasi.
Humulu dan meoti-oti merupakan cara tradisional menangkap ikan dengan menggunakan peralatan sederhana.

Praktik ini dulunya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir, sebelum perlahan tergeser oleh metode modern. Melalui festival ini, nilai-nilai tradisi tersebut dihidupkan kembali, bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan budaya.

Ketua panitia, Iskandar, menyampaikan bahwa penyelenggaraan festival ini tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama di tengah keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi. Meski demikian, semangat untuk menghadirkan kegiatan yang bermakna bagi masyarakat tetap menjadi prioritas utama panitia.

“Di tengah keterbatasan, kami tetap berupaya maksimal agar festival ini bisa terlaksana dengan baik dan memberi manfaat,” jum’at(24/4/2026) ujarnya.
Menurutnya, tujuan utama Festival Humulu dan Meoti-oti adalah menjaga eksistensi budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

Kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kembali rasa bangga masyarakat terhadap tradisi leluhur.
Tak hanya itu, festival ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Pelaksanaannya yang beriringan dengan kegiatan UMKM turut membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan produknya, sehingga mendorong perputaran ekonomi di daerah.

Partisipasi masyarakat pun cukup tinggi. Panitia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga lokal untuk ikut serta tanpa dipungut biaya pendaftaran.

Kebijakan ini diambil sebagai bentuk dorongan agar masyarakat lebih aktif dalam melestarikan budaya daerahnya.

Dalam penentuan pemenang, panitia menetapkan indikator utama berupa hasil tangkapan.

Kategori humulu dan meoti-oti menjadi penilaian kunci, dengan pemenang ditentukan dari hasil tangkapan terberat berdasarkan jenis ikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Untuk menjamin keadilan, dewan juri yang dilibatkan merupakan pihak-pihak berpengalaman di bidangnya, sehingga proses penilaian dapat berlangsung objektif dan transparan.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan hadiah berupa uang pembinaan serta berbagai doorprize menarik bagi para pemenang.

Ke depan, Iskandar berharap Festival Humulu dan Meoti-oti tidak hanya menjadi agenda tahunan semata, tetapi mampu menjadi pemantik semangat masyarakat dalam menjaga warisan budaya.

Lebih dari itu, festival ini diharapkan berkembang menjadi ikon daerah yang memperkuat identitas Wawonii di mata publik yang lebih luas. (GZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *