Merawat Janji Harmoni di Tanah Wawonii

Daerah93 Dilihat

​Wawo Indah, KontaraNews — Udara sejuk Sabtu (26/9/2026) pagi di Desa Wawo Indah, Kecamatan Wawonii Tengah, Kabupaten Konawe Kepulauan, terasa begitu hangat. Di area Pura Persimpangan Jagat Bali, alunan mantra dan wewangian dupa menyatu dengan obrolan akrab warga dari pelbagai latar belakang keyakinan.

Hari itu, umat Hindu setempat merayakan Upacara Piodalan ke-32—sebuah perjalanan panjang perawat harmoni di pulau tersebut.

​Perayaan tahunan ini tak sekadar ritus keagamaan. Kehadiran para pejabat daerah dan aparat keamanan memberi warna tersendiri. Mewakili Bupati Konawe Kepulauan, Asisten III Setda Abdul Fattah hadir untuk membuka acara secara resmi.

​Tampak pula di lokasi, Kapolres Konawe Kepulauan yang datang didampingi Kabag SDM dan Kanit Reskrim. Unsur Forkopimda lain seperti Danramil 1417-01/Wawonii, perwakilan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Konawe Kepulauan, serta jajaran pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan PHDI duduk bersisian bersama para tokoh masyarakat.

​Sinergi antarlembaga yang hadir menjadi simbol kuat bahwa negara dan masyarakat berjalan seiring dalam merawat kebhinekaan.
​Merangkul Perbedaan
​Dalam sambutan tertulis Bupati yang dibacakannya, Abdul Fattah menegaskan bahwa kehadiran pemerintah daerah, TNI, Polri, dan instansi keagamaan di Pura Wawo Indah bukan sekadar pemenuhan agenda protokoler semata. Lebih dari itu, hal ini adalah wujud nyata komitmen untuk mengayomi seluruh warga tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

​”Berbeda iman bukan penghalang, persaudaraan tetap kita jaga. Kehadiran kita bersama di sini adalah bukti komitmen untuk menjaga kerukunan dan persatuan di Kabupaten Konawe Kepulauan,” ujar Abdul Fattah di hadapan ratusan umat dan tamu undangan.

​Pemerintah Daerah menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi umat Hindu di Wawo Indah yang selama lebih dari tiga dekade berhasil merawat iklim sejuk dan toleransi antarumat beragama di Pulau Wawonii.

​Melestarikan Alam dan Visi Masa Depan
​Tidak hanya menekankan pentingnya kerukunan sosial, momentum Piodalan ini juga dikaitkan dengan visi besar daerah, “Wawonii Emas 2030″. Abdul Fattah mengingatkan pentingnya peran rumah ibadah dalam membentuk karakter dan moral generasi muda di tengah arus modernisasi.
​Di sisi lain, ajaran kearifan lokal Hindu, Tri Hita Karana yang mengajarkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan dinilai sangat relevan dengan komitmen pembangunan berkelanjutan di pulau tersebut.

​”Menjaga kelestarian lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab kita bersama agar pembangunan tidak merusak alam yang kita warisi,” tambahnya.

​Rangkaian acara pembukaan diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan kedamaian daerah, diiringi ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran pengamanan dan panitia yang telah memastikan kegiatan berjalan khidmat, aman, dan lancar.(GZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *