Menjaga Laut, Merawat Tradisi: Denyut Festival Humulu dan Meoti-oti Wawonii 2026

Daerah16 Dilihat

Langara KontaraNews– Pagi di pesisir Wawonii selalu punya cerita.
Debur ombak yang tenang, perahu-perahu kecil yang bersandar, dan tangan-tangan terampil yang akrab dengan laut sejak usia belia. selasa(28/4/2026).

Di sanalah, tradisi hidup bukan sekadar dikenang, tetapi dijalankan.
Pada 16 Mei 2026 mendatang, suasana itu akan terasa berbeda. Lebih ramai, lebih semarak.

Festival Humulu dan Meoti-oti akan digelar, menghadirkan kembali denyut budaya bahari yang telah lama mengakar di kehidupan masyarakat Wawonii.

Humulu tradisi menombak ikan dengan ketelitian dan ketangkasan bukan sekadar soal hasil tangkapan. Ia adalah tentang kesabaran, insting, dan penghormatan pada laut. Sementara Meoti-oti, aktivitas mencari kerang di pesisir, menjadi gambaran sederhana tentang kedekatan manusia dengan alam, tentang bagaimana rezeki dipetik tanpa merusak.

Di balik perhelatan ini, panitia bekerja dalam ritme yang tak kalah dinamis.

Rapat demi rapat digelar, koordinasi terus diperkuat, memastikan setiap detail acara tersusun rapi. Ketua panitia, Iskandar, menyebut festival ini sebagai lebih dari sekadar perlombaan.

“Ini tentang identitas. Tentang bagaimana kita menjaga apa yang diwariskan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujarnya.

Bagi masyarakat, festival ini bukan hanya hiburan. Ada kebanggaan yang tumbuh ketika tradisi mereka mendapat ruang untuk ditampilkan. Ada harapan bahwa generasi muda tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut merasakan, memahami, dan melanjutkan.

Di sisi lain, pesan tentang keberlanjutan juga mengalir kuat. Melalui kolaborasi dengan PAAP Wawonii, peserta akan dibekali pemahaman tentang cara memanfaatkan sumber daya laut secara bijak. Penanggung jawab lomba, Sumantri, menegaskan bahwa menjaga laut adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga tradisi itu sendiri.
“Kalau laut rusak, tradisi ini juga akan hilang. Jadi, keduanya harus berjalan beriringan,” katanya.

Festival ini juga menghadirkan nuansa kegembiraan. Bukan hanya soal tradisi, tetapi juga apresiasi.

Panitia telah menyiapkan hadiah uang tunai untuk masing-masing kategori lomba, yakni juara pertama sebesar Rp1.000.000, juara kedua Rp750.000, dan juara ketiga Rp500.000. Selain itu, berbagai doorprize menarik akan diundi saat penimbangan hasil tangkapan momen yang selalu dinanti, penuh sorak dan tawa.
Menariknya, partisipasi dibuka untuk semua.

Tanpa biaya pendaftaran, siapa pun bisa ambil bagian baik dengan mendaftar secara daring maupun langsung melalui panitia.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Festival Humulu dan Meoti-oti adalah ruang temu antara masa lalu dan masa depan.

Di sana, tradisi tidak hanya dipertontonkan, tetapi dirawat. Laut tidak hanya dimanfaatkan, tetapi dijaga.Dan Wawonii, sekali lagi, menunjukkan bahwa kekayaan sejatinya bukan hanya pada hasil lautnya melainkan pada cara masyarakatnya memaknai dan merawat warisan itu.(GZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *