
WAWONII TIMUR LAUT KONTARANEWS — Pagi di Desa Watu Ondo, Selasa, 3 November 2026, menyambut mentari dengan kehangatan yang tak biasa. Di bawah naungan langit pulau berselimut angin pesisir Konawe Kepulauan, ritme kehidupan warga sejenak luruh dalam sebuah bentangan riung sederhana. Di sana, di antara obrolan penuh asa dan tatapan mata yang menaruh tumpuan, Anggota DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan, Sa’dillah, S.IP., hadir merajut simpul silaturahmi dalam agenda Reses 3 diTahun 2026.
Hadir duduk melingkar menyatukan niat:
Sekretaris Desa, jajaran BPD, tokoh-tokoh masyarakat beruban penuh pengalaman, hingga warga akar rumput yang datang membawa helai demi helai keluh dan cita-cita tanah kelahiran mereka.
Nyanyian Ujung Kampung: Jembatan, Talud, dan Aspal Impian
Bukan sekadar perjumpaan tatap muka biasa, forum pagi itu menjelma menjadi kanvas tempat warga melukis rincian kebutuhan desa. Tiga desakan utama mengemuka tiga urat nadi yang selama ini dirindukan ketahanannya:
Jembatan Penghubung Noko Watu Ondo:
Sebuah bentangan sepanjang 17 meter yang diimpikan menjadi peretas jarak, menyambung ikatan persaudaraan dan mobilitas ekonomi warga dua wilayah yang terpisah arus.
Talud Jalan Watu Ondo Bangun Mekar
Dinding penahan tanah sepanjang 200 meter, sebuah benteng pembatas agar jemari tanah jalan tak terkikis hujan saat melintasi batas Desa Bangun Mekar menuju Watu Ondo.
Penyempurnaan Ruas Pengaspalan:

- Asa pengaspalan sepanjang 1 kilometer yang meneruskan tapak hitam jalan dari Bangun Mekar menuju jantung Watu Ondo, agar deru roda tak lagi bergulat dengan debu dan berbatu.
Menyusuri Jejak Tanah: Dari Catatan ke Pelosok Lapangan
Usai lembar demi lembar aspirasi terurai dalam ruang bincang, langkah tak berhenti di balik meja. Sa’dillah memboyong rombongan melangkah menyusuri tanah Watu Ondo.
Di bawah terik yang mulai meninggi, ia meninjau langsung setiap sudut lokasi yang diusulkan. Langkah kakinya menyentuh tanah calon jembatan dan batas tapak aspal, memastikan bahwa apa yang dituliskan warga adalah realitas yang memang membutuhkan tangan dingin kebijakan.
”Aspirasi ini bukan sekadar deretan angka dan ukuran meter, melainkan denyut nadi kesejahteraan warga yang harus kami kawal sampai berbuah wujud,” penegas tekad yang terpancar dari peninjauan tersebut terang saidillah .
Seluruh untaian harapan dari Watu Ondo kini telah terpahat rapi dalam catatan pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD. Dari sudut pulau yang tenang ini, ikhtiar telah ditanam, siap dibawa dan diperjuangkan di ruang-ruang pembahasan anggaran demi mekarnya kesejahteraan di tanah Konawe Kepulauan.(GZ)


