Kendari, KontaraNews β Pagi itu, pelataran Tugu Religi Sulawesi Tenggara di Kota Kendari berubah menjadi ruang pertemuan energi langkah kaki para pelari, kamera para kreator, dan semangat kolektif yang mengarah pada satu tujuan merayakan hidup sehat dan memperkenalkan Wawonii dengan cara yang lebih segar.
Launching Wonderful Wawonii Run 2026 pada Minggu (5/4/2026) tak sekadar menjadi seremoni pembuka. Ia menjelma menjadi panggung kolaborasi, di mana ratusan pelari dari berbagai daerah menyatu dengan komunitas running Kendari dan para pegiat konten kreatif Sulawesi Tenggara.
Di tengah keramaian itu, Bupati Konawe Kepulauan, Rifki Saifullah Razak, memaknai kegiatan ini sebagai lebih dari sekadar lomba. Baginya, Wonderful Wawonii Running Festival 2026 adalah cara baru merajut kebiasaan hidup sehat sekaligus memperkenalkan wajah lain dari Wawonii.
βIni bukan hanya tentang berlari. Ini tentang bagaimana olahraga, hiburan, dan kreativitas bertemu dalam satu ruang yang sama,β tuturnya.
Jika sebelumnya kegiatan serupa hanya digelar secara sederhana di tingkat kabupaten, kali ini Pemerintah Kabupaten Konkep melangkah lebih jauh. Dengan persiapan yang lebih matang, event ini dinaikkan ke level provinsi, membuka ruang partisipasi yang lebih luas.
Tak berdiri sendiri, ajang ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Pulau Wawonii dalam menyambut Hari Ulang Tahun ke-13 Kabupaten Konawe Kepulauan tahun 2026. Sebuah perayaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menggerakkan.
Rencananya, Wonderful Wawonii Run akan digelar pada 24 Mei 2026. Pendaftaran pun telah dibuka sejak hari peluncuran melalui kanal resmi Wonderful Wawonii.
Namun, denyut festival tidak berhenti pada lintasan lari.
Beragam kegiatan lain telah disiapkan wisata bahari yang memikat, lomba mancing yang akrab dengan laut, hingga kirab budaya yang menghadirkan identitas Wawonii dalam rupa yang lebih hidup. Ditambah lagi lomba kuliner dan keterampilan lokal yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Dalam nada santai, Bupati sempat menyentil bahwa selama ini Wawonii kerap dikenal secara terbatas. Melalui kirab budaya, ia ingin narasi itu diperluas bahwa Wawonii adalah tentang tradisi, warna, dan cerita yang layak dikenalkan lebih jauh.
Tak ketinggalan, para kreator konten juga diberi panggung. Mereka diajak merekam dan merangkai cerita visual tentang pesona Wawonii dalam bentuk video pendek berdurasi 3 hingga 5 menit sebuah cara modern untuk memperkenalkan daerah lewat lensa digital.
Pada akhirnya, harapan yang ingin dicapai sederhana namun berdampak festival ini menjadi penggerak ekonomi lokal. UMKM tumbuh, masyarakat terlibat, dan Wawonii menemukan jalannya menuju perhatian yang lebih luas.
Dari Kendari, langkah itu telah dimulai. Kini, arah berikutnya adalah Wawonii tempat di mana langkah-langkah itu akan menemukan maknanya.(GZ)




