Perkuat Ketahanan Desa Pesisir, ITB, UHO, dan BRIN Edukasi Mitigasi Bencana di Wawonii Utara konawe Kepulauan

Daerah20 Dilihat


kontaraNews– Upaya membangun ketahanan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana alam terus diperkuat melalui kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Halu Oleo (UHO), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Desa Tombaone Utama. Melalui kegiatan pemberdayaan dan pendampingan masyarakat yang digelar di Desa Tombaone Utama, Kecamatan Wawonii Utara, Minggu (12/7), warga dibekali pengetahuan dan keterampilan menghadapi potensi gempa bumi, tsunami, likuifaksi, hingga banjir.

Kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana melalui penyuluhan, diskusi, dan simulasi.

Selain memahami ancaman yang ada di wilayah pesisir Pulau Wawonii, masyarakat juga diajak mengenali langkah-langkah penyelamatan diri apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB, Dr. Endra Gunawan, mengatakan kesiapsiagaan merupakan kunci utama dalam mengurangi dampak bencana.

Menurutnya, meskipun bencana alam tidak dapat dihindari, risiko yang ditimbulkan dapat ditekan apabila masyarakat memahami potensi ancaman, mengenal jalur evakuasi, dan mengetahui tindakan yang tepat saat keadaan darurat.

Materi yang disampaikan juga mencakup sejarah aktivitas kegempaan di sekitar Pulau Wawonii, sumber-sumber gempa aktif, potensi tsunami, serta pentingnya membangun rumah tahan gempa sebagai bentuk mitigasi jangka panjang.
Peneliti BRIN, Dr. Nuraini Rahma Hanifa, mengungkapkan bahwa masyarakat setempat masih menyimpan pengetahuan lokal mengenai bencana yang diwariskan turun-temurun. Warga mengenal istilah Lioli untuk gempa bumi dan Ola-ola untuk tsunami. Pengetahuan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam penyusunan jalur evakuasi dan strategi mitigasi yang sesuai dengan kondisi lokal.

Sementara itu, dosen Teknik Sipil ITB, Dr. Yuamar Imarrazan Basarah, mengajak masyarakat membangun budaya siaga bencana sejak dini. Menurutnya, kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan yang terus dilatih, bukan hanya dilakukan ketika bencana telah terjadi.
Respons positif datang dari masyarakat dan pemerintah desa.

Kepala Desa Tombaone Utama menyampaikan bahwa berdasarkan cerita para leluhur, wilayah tersebut pernah mengalami peristiwa yang diduga tsunami, ditandai dengan surutnya air laut secara tiba-tiba sebelum gelombang besar datang. Karena itu, edukasi dan pelatihan mitigasi dinilai sangat penting untuk memperkuat kesiapan masyarakat.

Pemerintah desa berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan dikembangkan melalui simulasi evakuasi, pengenalan jalur penyelamatan, serta penentuan titik kumpul yang aman.

Harapan yang sama juga disampaikan tim ITB agar kolaborasi bersama UHO, BRIN, BMKG, BPBD, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dapat terus dilakukan guna meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi, tsunami, likuifaksi, maupun banjir di masa mendatang.(GZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *