Kolaborasi, Kunci Menjaga Biodiversitas Pulau Wawonii Hingga Hari Ini

Daerah27 Dilihat

 

WAWONII, 9 Maret 2026 – Upaya menjaga biodiversitas di pulau kecil seperti Wawonii tidak dapat

dibebankan pada satu pihak semata. Kompleksitas ekosistem, keterbatasan daya dukung lingkungan,

serta beragam tekanan pemanfaatan ruang menuntut pendekatan kolaboratif yang melibatkan dunia

akademik, pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah.

Pendekatan inilah yang tercermin dalam kegiatan pemantauan biodiversitas darat dan laut di Pulau

Wawonii, khususnya wilayah Wawonii Tenggara, yang dilakukan secara berkelanjutan sejak 2023 hingga

2025. Pemantauan ini dilakukan oleh salah satu Peneliti Biodiversitas PT Erdas Dwi Konsultan sekaligus

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo (UHO), Prof. Faisal Danu

Tuheteru, bekerja sama dengan PT Gema Kreasi Perdana (GKP).

Menurut Prof. Danu, Wawonii merupakan wilayah dengan karakter ekologi yang unik dan kompleks.

Dalam satu bentang alam, pulau kecil ini memiliki ekosistem mangrove, hutan dataran rendah, hingga

hutan ultramafik yang secara geologi kaya mineral dan relatif jarang ditemukan di tempat lain.

“Kondisi seperti ini membutuhkan pengelolaan yang hati-hati dan berbasis data. Tidak cukup hanya

dengan asumsi atau narasi sederhana. Di sinilah kolaborasi riset menjadi penting,” ujar Prof. Danu.

Riset Kolaboratif, Basis Pengelolaan Lingkungan

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman hayati di sejumlah titik pengamatan

berada dalam kondisi stabil, bahkan meningkat di beberapa lokasi. Dari kelompok fauna, tercatat 27 jenis

burung endemik Sulawesi, dengan 16 di antaranya merupakan catatan baru di Pulau Wawonii. Pada

kelompok kelelawar, enam dari 11 jenis yang teridentifikasi juga merupakan temuan baru dibandingkan

data penelitian sebelumnya (Buku “Daftar Jenis Tumbuhan di Pulau Wawonii Sulawesi Tenggara” dan

“Pulau Wawonii: Keanekaragaman Ekosistem, Flora, dan Fauna “ yang diterbitkan oleh LIPI tahun 2015).

Temuan ini memperlihatkan bahwa biodiversitas Wawonii selama ini belum sepenuhnya terdokumentasi,

sekaligus menegaskan pentingnya pemantauan jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan

terbuka.

“Tanpa kolaborasi, data-data ini tidak akan muncul. Perusahaan menyediakan dukungan program,

akademisi memastikan metodologi ilmiah, dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan

yang lebih bertanggung jawab,” jelas Prof. Danu.

Selain inventarisasi hayati, tim peneliti juga melakukan analisis kualitas air sungai, air laut, sedimen, serta

kandungan logam berat pada biota ikan. Hasilnya menunjukkan seluruh parameter berada di bawah

ambang batas baku mutu yang ditetapkan regulasi nasional dan standar internasional.

Bagi PT GKP, kolaborasi ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan pengelolaan lingkungan,

khususnya kegiatan reklamasi pasca-tambang.Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, menyampaikan bahwa data hasil

pemantauan biodiversitas digunakan sebagai rujukan utama dalam menentukan pendekatan reklamasi

yang lebih adaptif dan kontekstual.

“Reklamasi bukan sekadar kewajiban regulasi. Dengan dukungan data ilmiah, kami dapat memilih jenis

tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, termasuk tanaman pionir, tanaman pakan satwa, hingga jenis

yang berpotensi mengembalikan fungsi ekosistem secara bertahap. Dari sekitar 114 jenis tumbuhan yang

teridentifikasi, data tersebut kini menjadi basis pengembangan persemaian (nursery) perusahaan untuk

mendukung reklamasi jangka panjang,” ujarnya.

Peran Masyarakat dalam Menjaga Ekosistem

Kolaborasi tidak berhenti pada level perusahaan dan akademisi. Kesadaran masyarakat setempat juga

menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan ekologi pulau kecil.

Sejumlah warga pesisir Wawonii Tenggara mengakui adanya perubahan positif dalam praktik

pemanfaatan sumber daya laut. Praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan bahan

peledak, kini semakin jarang ditemui.

“Sekarang sudah hampir tidak ada lagi yang pakai bom ikan. Ada sosialisasi dan pengawasan. Kami juga

sadar laut ini harus dijaga supaya anak-cucu kami masih bisa melaut,” kata Hasanudin, warga Desa

Dompo-Dompo Jaya.

Prof. Danu menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan di pulau kecil seperti Wawonii tidak ditentukan

oleh ada atau tidaknya satu jenis aktivitas ekonomi semata.

“Tekanan terhadap ekosistem bisa datang dari berbagai arah. Karena itu, menjaga Wawonii harus menjadi

tanggung jawab bersama. Kolaborasi dan kesadaran kolektif adalah kunci agar aktivitas ekonomi dan ekologi dapat berjalan berdampingan, “tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *