Di Tengah Tekanan Fiskal, Rifqi Saifullah Razak Antar Konawe Kepulauan Raih Penghargaan Penurunan Pengangguran Terbaik Kedua Se-Sulawesi

Daerah32 Dilihat

Kendari KontaraNews-Di sebuah ruangan megah di Hotel Claro Kendari, Jumat, 30 Mei 2026, nama Kabupaten Konawe Kepulauan kembali bergema di tingkat regional Sulawesi.

Di tengah tekanan fiskal dan tantangan ekonomi daerah, wilayah kepulauan yang dikenal sebagai Pulau Wawonii itu berhasil meraih penghargaan sebagai daerah terbaik kedua se-Sulawesi dalam capaian penurunan tingkat pengangguran terbuka yang diberikan oleh Kemendagri.

Di balik capaian tersebut, ada kepemimpinan Bupati Konawe Kepulauan, Rifqi Saifullah Razak, yang memilih membangun ekonomi daerah dengan pendekatan yang dekat dengan denyut kehidupan masyarakat bawah.
Prestasi itu bukan sekadar simbol administratif. Ia menjadi penanda bahwa sebuah daerah kepulauan dengan keterbatasan akses dan tekanan anggaran tetap mampu bergerak maju ketika kebijakan dibangun dengan keberpihakan yang jelas kepada rakyat.

Rifqi Saifullah Razak memilih jalan yang tidak biasa. Ketika banyak daerah berlomba mendorong urbanisasi tenaga kerja atau terlalu bergantung pada sektor formal, Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan justru menghidupkan kembali semangat agraris dan maritim melalui program “Bersafari”. Program ini menyasar generasi muda agar kembali melihat pertanian dan perikanan sebagai masa depan yang menjanjikan.

Para pemuda tani dan nelayan milenial tidak hanya diberi motivasi, tetapi juga dipertemukan dengan sistem ekonomi desa melalui BUMDes. Sebagian dari mereka bahkan dikirim belajar ke Bogor dan sejumlah daerah di Pulau Jawa untuk memperdalam kemampuan dalam pengembangan sektor pertanian sesuai potensi lokal yang mereka tekuni.

Pendekatan itu perlahan mengubah wajah desa-desa di Wawonii. Anak muda yang sebelumnya bercita-cita meninggalkan kampung mulai melihat tanah dan laut sebagai ruang hidup yang memiliki masa depan.

Di sektor lain, Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan juga menjalankan strategi keberpihakan ekonomi yang sederhana namun berdampak besar: menjadikan pemerintah sebagai pembeli pertama produk rakyatnya sendiri. Melalui surat edaran khusus, seluruh OPD diwajibkan menggunakan produk olahan UMKM lokal di lingkungan kerja mereka.

Kebijakan itu diperkuat dengan pelaksanaan Festival Wonderful Wawonii yang bukan hanya menjadi agenda budaya dan pariwisata, tetapi juga ruang tumbuh bagi pelaku UMKM lokal. Aktivitas ekonomi kreatif bergerak, transaksi meningkat, dan perputaran uang tetap terjadi di daerah sendiri.

Namun langkah paling berani datang dari kebijakan pembatasan kegiatan seremonial dan rapat pemerintahan di luar daerah. Kebijakan tersebut lahir dari kesadaran bahwa uang daerah harus tetap berputar di Konawe Kepulauan.

Ketika perjalanan dinas ditekan, sektor jasa lokal seperti penginapan, transportasi, hingga kuliner di Pulau Wawonii justru mendapatkan ruang tumbuh lebih besar.

Dampaknya bukan hanya terasa bagi pelaku usaha kecil, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.

Bagi Rifqi , capaian tersebut terasa lebih bermakna karena diraih di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah. Dalam pernyataannya, ia menyebut keberhasilan itu sebagai hasil kerja kolektif seluruh jajaran pemerintah daerah.

“Perlu dicatat bahwa di tengah keadaan fiskal daerah yang sedang dalam masa efisiensi, kita semua masih mampu menunjukkan kinerja terbaik hingga mendapatkan penghargaan yang luar biasa ini,” ungkapnya.

Di balik seremoni penghargaan itu, tersimpan pesan penting bahwa pembangunan tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh keberanian menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada masyarakat.

Dan dari Pulau Wawonii, pesan itu kini bergema hingga tingkat regional Sulawesi.(GZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed