Di Pintu Maaf yang Terbuka: Idul Fitri dan Seruan Sunyi dari Wawonii

Daerah50 Dilihat

Langara KontaraNews, Sabtu, 21 Maret 2026 —
Pagi itu, langit Wawonii seakan menurunkan ketenangan yang lama dirindukan. Takbir yang semalam menggema, kini menjelma desir halus di relung dada. Di pelataran Masjid Raya Langara, manusia-manusia datang bukan sekadar merayakan kemenangan, melainkan menjemput kembali fitrah yang sempat tercecer di lorong waktu.

Di antara saf yang rapat dan doa-doa yang mengudara, Bupati Konawe Kepulauan, Rifki Saifullah Razak, berdiri membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar seremoni tentang hati yang perlu dilapangkan, dan persaudaraan yang harus kembali dirawat.
Idul Fitri, baginya, bukan hanya penanda usainya Ramadan, tetapi jembatan sunyi untuk kembali saling menemukan dalam maaf yang tulus dan keikhlasan yang utuh.

“Mari kita besarkan hati, sucikan jiwa, dan membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Melepaskan keangkuhan, meluruhkan dendam, agar kita dapat berjalan berdampingan dalam damai,” ucapnya, lirih namun menggetarkan.
Ramadan yang telah berlalu, lanjutnya, adalah madrasah kehidupan tempat manusia belajar menahan diri, mengasah empati, dan menumbuhkan kasih. Nilai-nilai itu, seharusnya tak ikut berlalu bersama waktu, tetapi menetap dan bersemi dalam keseharian.

Dalam aliran kata yang tenang, ia juga menautkan harapan pada masa depan daerah, sebuah cita-cita besar bernama Wawonii Emas Berkelanjutan, di mana kemajuan dan keadilan berjalan beriringan, dan kesejahteraan bukan sekadar janji, melainkan kenyataan yang dirasakan bersama.

Di atas mimbar yang sederhana, ia merendahkan hati mengucap terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang telah menjaga harmoni di tanah kepulauan itu.

Dari tokoh adat hingga aparat, dari pemuka agama hingga masyarakat biasa, semua telah menjadi penjaga sunyi bagi kedamaian.
Dan seperti aliran sungai yang kembali ke muara, kata-katanya pun bermuara pada permohonan maaf atas segala khilaf, atas setiap kekurangan dalam mengemban amanah.
“Semoga Allah SWT menuntun langkah kita, menjadikan Konawe Kepulauan sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”

Di penghujung, ucapan Idul Fitri meluncur pelan, namun sarat makna seperti doa yang dititipkan angin

“Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.”

Dan pagi itu, di Wawonii, Idul Fitri tak lagi sekadar hari raya ia menjelma ruang hening, tempat manusia belajar kembali menjadi manusia.(Gz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *